Jumat, 04 Desember 2015

cerpen sedih

Hari Terakhir Bersamanya




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 30 November 2015

“Ahh Bodo amat!” itulah kataku kepada Amel, mantan pacarku.
Sebenarnya aku dan dia telah berpacaran 5 tahun, lama kelamaan sikapnya yang sayang sama aku, lama-lama ada yang aneh dengan dia. Benar saja, malam itu aku baru pulang dari balap liar di kota X, ternyata aku melihatnya dengan lelaki lain. Sedih, emosi saat ku melihatnya, namun hal itu aku tahan sampai esok hari.
Esok harinya, aku bertemu dengan dia, pertemuan yang bertanda berakhirnya kisah cinta kami.
“Amel” kataku padanya.
“Iya, ada apa?” sahutnya.
“Aku ingin bicara padamu sebentar” kataku lagi padanya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku ingin kisah cinta kita berakhir sampai sini saja” kataku sambil menahan air mata.
“Maksudmu?” tanya Amel yang langsung bingung.
“Iya, hari ini kita putus!” tegasku padanya.
“Tapi kenapa?” tanya dia kembali.
“Jangan kira aku tidak melihatmu semalam dengan lelaki lain”
“Jangan salah paham dulu, aku dan dia cuma…” belum selesai bicara, aku langsung memotong pembicaraannya.
“Jangan banyak alasan, mulai hari ini gak ada lagi aku dan kau, yang ada hanya lo dan gue” jelasku.
“Tapi…” katanya sambil mengangin.
“Ahh bodo amat!!” kataku sambil meninggalkannya yang masih menangis.
Sedih, sakit perih, itu yang aku rasakan saat itu.
Tujuh tahun aku dan dia hilang kontak dengan dia. Sampai suatu hari
“Taufiq, lo masih ingat Amel gak?” tanya sahabatku, Dani.
“Ya gue masih ingat sama dia, kenapa?” tanyaku.
“Fik, hari ini dia kecelakaan” tegasnya.
“Lalu dia dirawat di rumah sakit mana?” tanyaku panik.
“Di rumah sakit—” katanya.
Langsung aku tancap gas dengan mobil ilegal race-ku.
Sampai di rumah sakit yang dituju, aku langsung menanyakan kamar di mana dia dirawat, setelah aku mendapat informasi, aku langsung ke ruangan di mana dia dirawat.
“Amel!!” teriakku.
“Amel tolong sadar mel, aku minta maaf tentang kejadian 7 tahun lalu”
Beberapa saat kemudian, dia siuman.
“Taufiq? lo mau ngapain ke sini?” tanyanya.
“Gue dapat kabar dari Dani kalau lu kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini, aku langsung ke sini”
“Mel gue mau minta maaf tentang kejadian 7 tahun lalu, lo mau kan maafin gue?” tanyaku.
“Iya pik, gue mau maafin lo” kata Amel.
“Satu lagi mel, kamu mau kan balikan sama aku?” pintaku.
“Iya pik, aku mau balikan sama kamu” katanya.
Saat itu juga, dia telah tiada.
Esoknya di pemakaman, setelah semuanya bubar.
“Maaf aku belum sempat bahagiain kamu, aku minta maaf banget.”
The End
Cerpen Karangan: Taufiq

cerpen CINTA

Pesan Cinta Angin




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 4 December 2015

Udara musim gugur masih menyelimuti kota London saat itu. Masih terbilang hangat. Tepatnya di kota Bradford, bagian utara Negara Inggris. Gadis berusia 17 tahun itu berjalan di setapak menuju bukit tak jauh dari rumahnya. Bukit itu terletak di dalam hutan lebih tepatnya. Daun-daun berguguran dan jatuh tepat di atas kepala Gadis yang memegang keranjang kue tersebut. Gadis itu bernama Flo. Sekarang, ia mengitari sungai dengan langkah berhati-hati. Takut bajunya basah terkena percikan air dari sepatunya. Dia melangkah sesembari bersenandung kecil. Flo kemudian mendongak ke arah belakang. Dilihatnya asap-asap mengepul dari kejauhan. Mungkin saja ada yang sedang berkemah di dekat-dekat hutan ini. Tak apalah. Itu tak menyurutkan niatnya untuk cepat-cepat sampai ke bukit yang dikenal dengan bukit Seedmoun.
Flo membentangkan alas pakis untuk dijadikan tempat duduk dan menaruh sekeranjang penuh kue kering bikinannya sendiri di atasnya. Dia mendengar daun-daun yang gemerisik, binatang kecil yang berlalu-lalang di dekatnya, dan suara napasnya sendiri. Sangat damai. Sendiri di tempat sejuk seperti sekarang ini adalah kesukaannya. Lalu terdengar suara kaki melangkah mendekat. Flo berbalik. Ternyata Kai. Kai adalah satu-satunya teman lelaki yang ia punya sejak kecil. Dia sedang memakai tas ransel dan sepatu boots. Kai meringis kecil melihat Flo yang terheran-heran menatapnya.
“Hei! Ada apa? Kenapa menatap dengan wajah anehmu itu?” seru Kai sambil terkikik geli. Dia kemudian duduk di samping Flo dan meletakkan ransel yang dikenakannya. Kai menyodorkan sekotak kue ke Flo setelah dilihatnya gadis itu tersenyum.
“Kamu mau, Flo?” Tanya Kai sesembari memperbaiki posisi duduknya.
“Apa itu?” Tanya Flo berbalik.
“Hanya kue kering. Tadi Kakek Gupps membuatkan lebih untuk kita. Mau tidak? Kalau tidak, aku akan makan sendiri.” Kai tersenyum jahil.
“Berikan aku sepotong saja.” jawab gadis itu tanpa mempedulikan wajah Kai yang aneh.
“Kai, mau tidak kamu menemaniku ke toko Seffin tidak jauh dari sini? Aku ingin membeli puding” tanyanya lagi lalu bangkit dan membereskan kue-kue dan alas pakis yang telah lama tertindih. “Boleh saja. Ayo!” Kai mengangguk kemudian bangkit dan berjalan mendahului Flo.
Esoknya, Flo menelepon Kai. Tidak terjawab. Dicoba lagi olehnya. Hasilnya nihil. Flo tergopoh mengambil flat shoes-nya lalu berlari ke luar menuju ke rumah Kai. Gadis itu menabrak Ibunya yang sedang membawa tanaman. Ia secepat kilat mengambil sepedanya yang terparkir di halaman depan. Ibunya beberapa kali mengumpatnya menyuruhnya berhati-berhati. Flo hanya mengangguk kemudian mengayuh sepedanya dengan cepat.
“Kai, Kai. Kamu ada di dalam?” Flo mengetuk pintu rumah Kai beberapa kali.
Tak ada yang membukakan pintu untuknya. Badannya lemas. Kai ke mana? Tumben dia pergi tanpa bilang dulu? Flo pusing memikirkannya. Dia lalu beringsut mendekati jendela. Tak nampak siapa-siapa. Mungkin Kai ke kota, pikirnya. Flo mengayuh sepedanya menuju bukit Seedmoun. Dia memarkir sepedanya di seberang sungai lalu berjalan mendekati hutan pinus tak jauh dari situ. Dia melihat seorang lelaki sebayanya sedang melukis di bawah pohon itu. Apa dia Kai? Sedang apa anak itu? Melukis sendirian di bawah pohon. Flo lalu mendekatinya. Kai merasakan kehadiran Flo lalu berbalik dan tersenyum. Flo mengusap keringat di dahinya. Dia benar-benar Kai. Flo memperhatikan setiap goresan lukisan Kai. Sangat cantik. Kai sedang melukis sungai yang ada di hadapannya. Dia sangat pandai melukis.
“Kai, aku juga mau pandai melukis. Mau tidak kamu mengajariku?” Tanya Flo malu-malu.
“Boleh. Tapi tunggu lukisan ini selesai dulu, ya.” Aku mengangguk seraya memberikan jempol tanda setuju. Dia kemudian melanjutkan lukisan sungainya itu. Flo terkantuk-kantuk menunggu Kai selesai melukis. Akhirnya dia merebahkan kepalanya di bahu Kai. Kai menyadari sesuatu. Dia lalu berhenti sebentar untuk menatap wajah gadis itu. Flo telah tertidur. Matanya. Senyumnya. Kai sangat menyayangi Flo. Entah sebagai apa. Kai tidak yakin. Kai kemudian menyimpan kuas yang sedari tadi ia pegang ke dalam kotak lukisnya. Dia lalu merangkul pinggang Flo. Dan menaruh kepalanya di kepala Flo. Dia sangat ingin berlama-lama di samping Flo untuk saat ini.
Flo merenggangkan badan. Ia lalu melihat arlojinya. Sudah pukul 4 sore. Berarti sudah 2 jam ia tertidur di bawah pohon pinus ini. Dia seraya bangkit dan celingak-celinguk mencari Kai. Dia lalu melihat sebuah lukisan. Lukisannya berbeda. Dia mendekat ke arah lukisan tersebut. Baru saja ia hampir 5 langkah dari lukisan tersebut, Kai tiba-tiba datang dan mengambil lukisan tersebut dan menyembunyikan lukisan itu di belakangnya.
“Hei Kai! Aku mau lihat. Apa tidak boleh?” Tanya Flo dengan wajah cemberut. Kai berdehem.
“Boleh saja. Tapi belum selesai. Nanti saja jika sudah selesai.” Kai tersenyum kemudian menyimpan lukisan tersebut di bawah pohon pinus.
Hanya belakangnya saja yang nampak dari lukisan tersebut. Flo tidak bisa melihat gambarnya. Kai lalu menarik Flo menuju sungai. Kai menggenggam tangan Flo. Flo sesekali berbalik melihat lukisan tersebut. Dia sangat penasaran seperti apa lukisan Kai. Tiba-tiba, air sungai terpercik ke arahnya. Kai tersenyum nakal dan memercikkan air ke arah Flo. Flo lalu membalas sambil tertawa. “Awas kamu, Kai. Lihat saja! Kamu akan basah.” Teriak Flo seraya memercikkan air sungai ke arah Kai dengan lebih keras.
Matahari mulai tumbang di arah barat. Burung-burung kembali ke sarangnya masing-masing. Flo dan Kai sibuk membereskan peralatan lukis Kai. Flo melirik ke arah lukisan Kai. Masih penasaran. Kai paham mengapa Flo menatap lamat-lamat lukisannya itu. Kai lalu mengajak Flo mengambil sepedanya di seberang sungai. Hari hampir gelap. Mereka harus segera bergegas. Jika tidak, mereka akan tersesat. Kai menuntun sepeda Flo di sepanjang jalan setapak. Hari telah gelap. Mereka bingung akan berjalan ke mana. Flo merogoh saku depan jaketnya. Nasib baik, ia membawa senter. Dia lalu menyorotkan senter di sepanjang jalan.
“Kai, kamu hafal tidak jalan pulang jika gelap begini?” Tanya Flo mulai takut-takut. Kai mengangkat bahu. Flo mendesah pelan. Jangan-jangan mereka tersesat. Mereka mengitari hutan tersebut selama satu setengah jam. Flo melirik arlojinya. Sudah pukul 18.25. Flo mulai khawatir. Ibunya pasti khawatir padanya. Begitu juga dengan Kakek Kai. Flo melirik sekilas ke arah Kai. Kai bersikap biasa saja. Mungkin saja Kai tahu jalan pulang. Flo kemudian bersikap biasa saja walau ia tahu perasaannya tidak enak saat ini. Was-was. Namun, jika masih ada Kai di sampingnya, Flo masih bisa menahan rasa takutnya.
Kai tiba-tiba berhenti berjalan. Dia lalu menyandarkan sepeda Flo di salah satu pohon. “Flo, daripada kita berjalan namun tambah masuk ke dalam hutan, lebih baik kita bermalam di sini dulu. Kamu juga cape, kan?” Tanya Kai. Flo mengangguk. Kai lalu mengajak Flo ke bawah salah satu pohon yang besar. Dia menyampirkan ransel dan mengambil sebotol air mineral.
“Ini, minum dulu. Kamu pastinya cape.” Tawar Kai menyodorkannya kepada Flo. Flo menerima air tersebut dan meneguknya dengan berhati-hati dan menyisakan setengah untuk Kai.
“Kai, kamu juga cape, kan? Kamu juga minum. Ini.” Flo memberikan air tersebut kepada Kai. Kai meneguk sampai tetes terakhir. Kai lalu bangkit.
“Flo, kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku mau cari daun pakis dulu untuk dipakai sebagai alas tidur nanti. Aku tidak akan lama. Pinjamkan aku sentermu.” Kata Kai lalu mengambil senter di tangan Flo. “Oke, jangan lama, ya. Aku takut, Kai.” Kata Flo seraya memegang tangan Kai. Dingin.
“Iya. Kamu tunggu saja. Aku pergi.” Kai berlari kecil lalu hilang di dalam gelap. Baiknya, malam ini bulan bersinar utuh. Jadi Flo sedikit bisa melihat keadaan sekitar.
Gadis manis itu kemudian mengepang rambutnya yang terurai sedari tadi. Dia merogoh sakunya dan menemukan 3 permen karet. Lumayan. Dia bisa memberikannya juga ke Kai. Dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Tapi, sepertinya bukan Kai. Langkahnya seperti dua orang. Flo mengerjapkan mata. Benar-benar bukan Kai. Flo mulai takut. Dia lalu berteriak memanggil Kai. Dua orang bertubuh jakung itu mendekat ke arah Flo. Mereka lalu membungkam mulut Flo. Flo berusaha berteriak memanggil Kai. Kai belum datang. Ia berusaha berteriak sekeras mungkin dalam bungkaman dua orang lelaki asing itu. Flo memberontak. Tiba-tiba terdengar suara Kai.
“Kalian!! Mau apa kalian? Haaa? Apa yang kalian lakukan terhadap gadisku?”
Kai berlari lalu menerjang dua orang lelaki itu sekaligus dan meninjunya beberapa kali. Kepala. Perut. Semuanya seperti kesetanan. Seorang bertubuh jakung itu meninju perut Kai dengan tinjuan bertubi-tubi. Kai terjatuh sambil memegangi perutnya. Flo ketakutan dan tidak tega, tetapi ia memberanikan diri untuk membantu Kai. Ia melihat ranting besar dan memukulkan ranting tersebut ke lelaki yang menyerang Kai tersebut. Kepala lelaki itu berdarah terkena ranting yang runcing itu. Kai menarik Flo untuk segera pergi dari tempat itu. Kai menggenggam tangan Flo dengan erat. Mereka terus berlari. Mereka melihat asap megepul di kejauhan. Flo sudah mengenal tempat ini. Flo menyuruh Kai untuk mengikutinya seraya tersenyum. Tidak sampai 10 menit, mereka telah ke luar dari hutan tersebut. Mereka segera menuju kantor polisi terdekat. Tempatnya kecil. Tapi Flo mengenal salah satu polisi tersebut dengan baik.
Mereka baru saja pulang dari kantor polisi dan menceritakan kejadian yang mereka alami. Malam telah larut. Namun bulan masih sangat baik. Cahayanya masih membantu Kai dan Flo untuk melihat jalan yang mereka lalui. Kai berhenti sebentar lalu menatap Flo. Ada tersirat rasa khawatir di wajahnya. Kai lalu memeluk Flo. “Kamu masih ketakutan, Flo? Badan kamu juga dingin.” Kai memeluk Flo dengan erat dan mengusap kepala gadis yang disayanginya itu. Dilepaskannya pelukan yang sedari tadi ia lakukan. Flo mengangguk kemudian terlihat cairan bening membasahi wajah manis Flo. Gadis itu menangis. Kai merasa iba. Ia kemudian kembali memeluk Flo.
“Tenang saja, Flo. Ada aku di sini. Kamu akan aman bersamaku. Sekarang, ayo kita pulang.” Kai melepas pelukannya kemudian menggenggam tangan Flo. Gadis itu masih terdiam.
“Kai, terima kasih. Terima kasih karena kamu telah menolongku tadi. Tapi, bagaimana dengan barang-barang dan lukisan yang kita tinggalkan di hutan tadi? Haruskah kita kembali mengambilnya?” Tanya Flo berhenti sebentar.
“Jangan pedulikan itu. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang supaya kamu selamat sampai rumah. Besok saja barang-barang itu ku ambil. Ayo! Bergegas!” Kai menarik tangan Flo dengan lembut.
Udara malam itu dingin menusuk sampai ke tulang. Gigi Kai sampai terdengar gemeletuk. Dia tidak menggunakan jaket. Hanya memakai kaos oblong biasa dan flat shoes yang dibelinya di pasar loak. Flo memperhatikan wajah Kai dengan seksama. Sepertinya Kai tidak dalam keadaan baik-baik saja. Selain beberapa luka di wajahnya, Flo tidak melihat sesuatu yang lain. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa Kai sedang kesakitan. Entah apa. Hanya lekukan senyum Kai yang Flo lihat. Selain itu, tidak ada.

Flo bergegas memakai jaket yang semalam ia sampirkan di balik pintu. Sekonyong-konyong, ia berlari cepat menuju ke halaman belakang. Namun, Ibunya tak nampak. Dia lalu berlari ke dapur. Dia melihat Ibunya sedang membuat kue. Aromanya menyebar di dalam rumah. Sepertinya enak. Tetapi, Flo harus segera bergegas. Dia mencium pipi Ibunya kemudian pamit menuju ke rumah Kai. Flo tidak sepenuhnya ke rumah Kai. Dia hanya lewat. Dia sepertinya akan ke hutan tempat mereka hampir bermalam kemarin. Tujuannya cuma satu. Lukisan Kai. Sepertinya lukisan itu berharga buatnya. Semalam, ia melihat wajah Kai yang berubah saat Flo berniat akan mengambil lukisan tersebut. Pasti lukisan itu sangat bagus sampai-sampai dia tidak berniat sedikit pun memperlihatkannya kepada Flo. Flo tidak yakin. Tapi, rasanya dia harus mengambil lukisan tersebut untuk diberikan kepada Kai.
Kai sedang mengamati lukisan yang kemarin dibuatnya. Kai tersenyum. Tetapi, sedetik kemudian, dia menutup kembali lukisan tersebut karena Kai merasakan kehadiran Flo. Flo memasang wajah cemberut. “Kamu pelit, Kai. Tidak ingin memperlihatkan kepadaku lukisanmu itu. Padahal kan, aku sahabatmu.” Flo menunjukkan wajah manyun. Kai tertawa kecil melihat kelakuan Flo.
“Kamu seperti anak kecil, Flo.” Kai tertawa mengejeknya.
“Aku memang masih kecil. Lihat saja wajahku. Masih seperti wajah bayi nyonya Peter. Imut dan menggemaskan.” Flo membalas ejekan Kai lalu menjulurkan lidah. Kai tersenyum kemudian mengacak rambut Flo.
Tiba-tiba, semenit kemudian, Kai jatuh pingsan. Flo sangat kaget. Digoyang-goyangkannya tubuh Kai. Tetap tidak ada respon. “Kai? Kamu kenapa? Kai! Bangun Kai!” Flo tetap mengguncang tubuh Kai. Dia sangat panik dan khawatir. Dia bingung harus melakukan apa. Air mata Flo menetes. Gadis itu menangis sembari memandangi wajah Kai yang penuh luka lebam. Gadis itu berteriak minta tolong. Namun, tak seorang pun mendengar. Flo berusaha menggotong tubuh Kai. Dia tak sanggup. Dicobanya lagi. Tubuh Kai mulai terangkat sedikit demi sedikit.
Saat mengangkat Kai, Flo tidak sengaja menyibak kain yang menutupi lukisan Kai. Air matanya tambah deras mengalir. Itu gambar dirinya yang sedang tertidur. Mengapa Kai tidak mengatakannya? Mengapa Kai menyembunyikan hal itu dari Flo? Flo sudah tak sanggup memikirkan apa-apa. Dia berusaha sekuat tenaga menggotong Kai ke luar dari hutan tersebut. Jatuh bangun. Sudah beberapa luka gores di tubuhnya tak dipedulikannya. Jalan semakin menanjak saja. Tapi akhirnya, Flo sampai di depan rumah Kai. Dia membawa Kai masuk. Kakek Gupps, Kakek Kai sudah siap melontarkan banyak pertanyaan. Namun, diurungkan niatnya karena melihat Flo yang kelelahan. Setelah dua jam berlalu, Flo pamit untuk pulang. Kakek Kai hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

Kai dan Flo duduk bersampingan di dekat sungai favorit mereka. Flo menyandarkan kepalanya di bahu Kai. Kai melihat Flo seraya tersenyum.
“Flo, apakah aku masih bisa hidup lama? Apakah aku masih bisa di dekatmu terus seperti ini? Apakah kanker yang ku derita akan membunuhku?” Air mata Kai luruh jatuh membasahi wajahnya.
Flo tidak tega melihatnya. Diusapnya air mata Kai. “Kamu akan tetap hidup, Kai. Aku tidak akan membiarkan kanker itu membunuhmu. Tidak akan. Tidak akan ku biarkan orang yang ku cintai meninggalkanku seperti itu.” Flo tersenyum memandang Kai.
“Flo, kalau suatu saat aku pergi, aku akan menitipkan cintaku kepada angin. Angin yang akan menjadi perantara aku dan kamu. Setiap hela udara yang kamu hirup, akan ada aku di antaranya. Kamu akan selalu menjadi yang nomor satu, Flo.” Kai memeluk Flo erat kemudian melepaskan pelukannya.
“Kamu janji, Kai?” Tanya Flo menggenggam tangan Kai.
“Ya, aku janji.” Kai memegang tangan Flo dan menaruhnya di dadanya.
“Kamu akan selalu ada di sini.”
“The stars lean down to kiss you and I lie awake and miss you Pour me a heavy dose of atmosphere Cause I’ll doze of safe and soundly I’ll miss your arms around me I’d send a postcard to you, dear Cause I wish you were here.”
Cerpen Karangan: Nurul Adiyah
Facebook: Aulia Nurul Adiyah
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman

cerita sangkuriang

Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

legenda sangkuriang

Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Jawa Barat. Legenda tersebut berkisah tentang terciptanya danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Bukit Tunggul.
Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.
Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun lontar yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15.
Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:
Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
Datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)
Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)

puisi

Di suatu pagi aku berjalan-jalan di sekitar rumah,
Memandang keindahan alam di depanku,
Namun aku terpana pada sesuatu yang berada di ujung jalan,
Di situ aku melihat pemandangan yang jauh dari kesan indah,
Karena di situ aku melihat tumpukan sampah,
Dan tidak ada yang peduli…..
Angin sepoi-sepoi perlahan membawa terbang tumpukan sampah plastik ke jalan,
Di samping ujung jalan itu berderet rumah-rumah yang menjulang tinggi,
Apa yang ada dalam pikiran mereka?,
Mereka dengan santainya membuang sampah di ujung jalan tersebut,
Dan apa yang akan terjadi dengan alam ini?
Bila semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri?
Seberapa pantas?……….

 http://lokerpuisi.com/2015/12/03/seberapa-pantas-oleh-dienra-apra/

puisi

Teratai putihku terkulai
Lelah dalam penantian
Pergi membawa satu impian
tentang kisah yang terpendam
Seorang pun tiada pernah peduli
Pada rintihan yang tertahan
Sedang musimpun terus berganti
Bahagia tak kunjung datang
Di tabahkanlah hatinya
Alami segala coba
Menjauh dari kenyataan
menyendiri di perasingan
Hari;hari dilalui dalam sepi
Malam yang kelam menjadi teman abadi
Hanya tetesan embun yang kini menjadi saksi.
Teratai ku layu dalam pelukan bumi

 http://lokerpuisi.com/2015/12/03/akhir-sebuat-penantian-oleh-ida-ismara/
Slamat pagi guys: D
smoga hari ini mnjadi hari yg menyenangkan bagi kalian guys hehe
‪#‎cheers‬% enjoy brother